Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, 23 June 2013

Menanti Sebuah Senyum di Batas Senja

Menanti Sebuah Senyum di Batas Senja

oleh Asyifa Rhoudatul Janna
3 September 2012 pukul 20:19
20 juni 2012
Hari ini tak seperti hari-hari kemarin,dimana hujan kabur  dibalik cerahnya awan, bintang berkilau dan bertabur indah menghiasi sutra malam, desir-desir angin khidmat dalam kedamaian. Alam diam atau tidur aku tak mengerti,mereka seakan ikut hanyut dalam alur rasa hatiku yang kini beku.

“Plaakk…”kamus rumus yang berada ditanganku jatuh kelantai seketika itu pula aku tersadar dari khayalan yang tak pernah kumengerti. Yaa… sejak tadi jari-jariku bermain dengan lembaran-lembaran kertas yang bercerita tentang pytagoras,aritmatik,limit dll namun pandanganku membentur belahan buku dan menerawang jauh kedalam hinggah menembus ruang dan waktu,berputar dan terus menjauh masuk kedalam lubang,gelap dan hambar hinggah mematikan semua syarafku tuk berfikir lebih jernih.

Semua ini membuatku lelah. Pelajaran yang tidak kuinginkan namun memjadi tuntutan,kegiatan yang membuatku jenuh,dan kerinduan yang sulitku salurkan. “Aku janji akan pulang setelah ujian terakhirku selesai”. Ucapku membatin. Ntah mengapa akhir-akhir ini aku selalu merindukan papa, sosoknya sering hadir dalam mimpiku dan menjelma dalam nyata dan khayalku. aku sangat merindukannya terlebih jika melihat anak-anak bermain bersama ayahnya,aku akan teringat papaku tercinta,senyumnya,candanya yang renyah,dan petuah-petuah bijaknya semua menambah beban rinduku untuk segera pulang.
“halo… assalamu’alaikum anakku sayang.hhe”
“wa’alaikumsalam:D…. paaaa…!!! Pa kabar???^^”
Lama kami berbincang-bingcang lewat telfon.yaa itulah yang kulakukan ketika ku sangat merindukannya motifasi dan doa dari papa membuatku kembali semangat dalam belajar.
“jaga kesehatan nak,jangan tidur terlalu larut dan jangan lupa tuk bangun salat lail karena semua beban,kesulitan dan kemuliaan dapat dicapai jika kita selalu dekat denganNya.maka datangilah Dia dan bersujudlah padaNya diwaktu ketika banyak orang yang lalai dari mengingatnya dan memilih menghabiskan waktu tuk tidur karena ketika itu tidak ada perantara lagi antara kau dan Dia”
“siiip… sersan mutiara khaerunnisa bin jendral khairul mujib siap laksanakan perintah!!!^^”

“hahahaa….mutia,,,mutia”
……
“mut… da tau usmy kpn?” Tanya omku disuatu saat
“Iy sekitar 20 juli om”
“hmmm…” sambil mengerutkan keningnya yang tebal pertanda ia berfikir keras.
“ada apa om?”
“haa??? Oo,gak papa, menurutmu pa kau bisa lulus?”

“insyAllah^^,,,optimis dong om:D”
“gak mau pulang?”
Pertanyaan itu seketika menyentak syaraf nadiku,sejenis perasaan aneh menyergap hati dan perasaanku,,, sejak kemaren aku memang merasakan kerinduan yang sangat dalam meski sudah menelfon berkali-kali rasa rindu itutetap ada tidak seperti biasanya terlebih lagi selama kurang lebih seminggu ini aku tidak pernah sempat bicara dengan papa karena katanya ia sibuk dengan kerjaan barunya.

Pulang? Tentu ingin,bahkan sangat ingin,tapi bukankah ujian ini juga sangat pentig bahkan menjadi harus agar orang tuamu tidak perlu bekerja keras lagi,itu kata om. Sejak krisis finansial menyerang penghidupan kami,papa terpaksa menjadi petani yang menjadikan cangkul sebagai bolpoinnya dan sebidang tanah menjadi bukunya. Papa juga tak segan-segan memelihara beberapa hewan ternak sebagai teman barunya demi memberikan kami kehidupan yang layak.
“mut…mutia… kok ngelamun?”manyun.
“aah? Hee… gak, setelah selesai ja om baru pulang. Mang napa om?”
Dari garis wajahnya Nampak jelas om ku ini sedang berfikir keras dan gelisah,ntah apa yang dia sembunyikan firasatku mengatakan itu hal yang buruk.

Allahu Akbar allahu akbar….
Sayup sayup kudengar suara adzan dari toak mesjid yang berada sekitar 100 M dari kontrakan kami. Perlahan namun pasti pilar-pilar senja kini membentangkan permadaninya, melukis hangatnya malam dilangit kota metropolitan,satu,dua,dan tiga bintang mulai menawarkan senyumnya yang khas.

Dalam solatku tiba-tiba terbayang wajah papa, bayang-bayangnya tak pernah lepas hinggah akhir solatku,teringat ketika dia mengantarku ke pondok di malam hari karena tak ingin aku mendapat hukuman karena pulang terlambat dan papa juga merasa rugi jika aku tidak ikut pelajaran tafsir dimalam hari dan menghafal ketika subuhnya sehinggah papa ikhlas menempuh puluhan kilo dimalam yang begitu dingin.

Tak jarang ketika pulang papa kehujanan dan basah kuyup karena tidak membawa mantel. Aku juga ingat saat papa menjemputku dari pondok ketika liburan tiba,kami akan singgah diwarteg untuk makan dan singgah di mesjid atau mushollah ketika dijalan kami mendapati waktu solat.

Satu demi satu air matuku jatuh bercucuran dan terus mengalir dan semakin menjadi ketika aku berusaha untuk tidak menangis,aku rindu sangat merindukanmu paaa… segera ku selesaikan dzikir dan doaku lalu dilanjut dengan sunnah rawatibnya ku berdoa semoga di sana papaku baik-baik saja. Segera aku keluar tuk kemudian menelfon kerumah,baru saja aku ingin mengambil handphone dari balik pintu ku mendengar isak tangis tante yang sedang menelfon dan aku yakin itu dari mama.

Hening…semua tenggelam dalam kebisuan dan fikiran masing-masing, kukuatkan tuk melangkah ke wc disana aku menangis sejadi-jadinya.” Papamu sakit dan kini koma ia dirawat dirumah sakit sudah satu minggu dan akan dirujuk kerumah sakit palu”. Jelas tante lirih, dia terkena menginitis stadiun akhir. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Dalam hati ku terus bertasbih dan berdzikir berharap Dia yang maha pengasih menurunkan keajaibannya dan menyembuhkan papaku tercinta.

Ba’da solat subuh segera ku membooking tiket lion air. sejurus  kemudian kami kemall dekat rumah untuk menbeli beberapa kebutuhanku dirumah sakit tuk jaga nanti. Menunggu hari keberangkatanku tante mengatur semua barang bawaanku dengan rapi,membuatkanku bekal dan mewanti-wantiku tuk tidak lengah.

tante saangat khawatir karena ini kali pertama aku berangkat sendiri dan menempuh jarak yang sangat jauh bukan hanya melewati beberapa kota tapi juga pulau tanpa ada yang menemani,sungguh fantastis bukan… mutia yang tak pernah berani naik angkot dari rumah ke ruko atau dari rumahku ke sekolah dulu kini berangkat sendiri dari Sumatra ke Sulawesi,teman-temanku pasti akan berkata woooww… :D

Setelah cek in aku kembali keluar menemui tante dan sepupuku yang kecil kami saling berpelukan,mereka melepaskanku dengas isak tangis dan lambaian sedih harus berpisah,ada perasaan haru yang kini menggelayut dihatiku namun segera kutepis dan kehapus dengan senyum dan satu tarikan nafas.teringat ujianku yang kini berada didepan mata,dan karir yang mulai bersinar,sekali lagi aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kuat,huuuffttt… biarlah semuanya tertinggal disini,dan berusaha mulai yang baru lagi.

Aku terus berjalan menelusuri koridor menuju tempat wudhuh dan solat zduhur di mushollah lalu terbang meninggalkan kota sriwijaya yang penuh dengan kenangan dan impian yang harus dikubur.

Dunia ini ternyata begitu singkat,dan kecil. Betapa rugi orang-orang yang mengorbankan hati dan jiwanya hanya untuk hal yang sangat singkat ini,siang tadi aku masi berada di Palembang bahkan paginya masih sarapan bersama tante,ba’da isya waktu Indonesia timur aku sudah berada dikota palu.
….
Pilihan menjadi petani pasti merupakan hal yang sulit kata om muram,menurutkupun begitu, dulu kulit papa begitu putih dan bersih tapi kini kulitnya hangus terbakar matahari,dulu otot papa begitu kekar dan berisi sekarang ia terlihat lebih kurus,jika dulu fitnes mewajibkan papa mengangkat beban berat untuk membentuk ototnya kini menjadi petani mewajibkan ia mengangkat batu dan karung beras untuk memenuhi perutnya. Kucium dan kupeluk papa ku yang kini terbaring tak sadarkan diri di atas kasur biru. “paa…”bisikku lirih dengan suara merintih. Aku terus mencium dan menyapu rambutnya yang menipis sambil membisikkan kalam-kalamnya.
Subhanalllah,walhamdulillah,walailahaa illahllah wallahuakbar…
Selama tiga hari dirawat tanpa bisa makan akhirnya papa di pindahkan keruang icu dan atas persetujuanku papa dipasangi selang tuk makan,dan entah selang apa lagi yang menempel ditangan dan jarinya,sesak rasanya melihat papaku yang begitu kuat dan hebat terbaring lemah di atas ranjang tanpa bisa makan dan bicara padaku,mungkinkah papa sakit karena terlalu bekerja keras

 Ouch…. Papakusayang,papaku tercinta aku sungguh berharap kau bisa sadar dan tersenyum padaku lalu memanggil namaku seperti dulu, Mutia… mutiaku sayang…. Setelah membacakan surah ar-rahman dan al-waqiah surah faforit papa kulanjutkan dengan menbacakan surah al-fatiha 7x lanjut dengan membaca mu’auwidzatain 3x dan ayat kursi lalu ditutup dengan al-fatiha,kemudian kubersihkan wajah papa dengan tisyu basah,wajahnya sangat kotor  dan berdebu mungkin karena berkeringat dan tak pernah mandi salama 2 minggu,kurapikan cambang dan jenggotnya sambil terus meracau meski aku tau papa tidak bisa mendengarku.

 “naah…kaan wajah papa jadilebih bersih pasti para dokter itu iri karena sadar papa lebih tampan dari mereka”acapku sambil menggantikan pakaiannya yang sudah basah dengan keringat. “paa.. cepat sembuh yaaa… dan segera sadar,lihat mutia uda pulang,lihat dong paa…. Anakmu ini makin cantik,tapi mengurus karena sangat merindukan papa,jadi sadar yaa paa… ntar mutia certain kisah-kisah lucu mutia selama disekolah dan dirumah bersama om dan tante,ok buddy??!^^” ungkapku bersemangat,lalu kukecup keningnya ”paa… mutia solat dulu yaaa…” dann… Allahu akbar… papaku yang sejak seminggu tak sadarkan diri akhirnya membuka matanya dan mengangkat keningnya tanda setuju dan mengizinkanku pergi,tak kuasa ku menahan haru bisa melihat mata papaku yang begitu sejuk,”paa…??? Papa liat mutia kaaan??? Ini mutia paaa? Papa mutia uda datang dua hari yang lalu? Papa tau kaan?” matanya berkaca dan kembali mengangkat keningnya,Allahu akbar. Aku berusahauntuk tidak menangis,tak ingin papa sedih dan melemah karenanya jadi aku tersenyum dan memeluknya lalu kucium ia berkali-kali dan ku hapus setetes air matanya yang keluar begitu lambat.

“paa… mutia juga yakin pasti papa bisa sadar dan kembali sehat,mutia tau itu,karena papa ingin melihat mutia kaannn…^^ papa tetap kuat yaa,mutia selalu berdoa untuk kesembuhan papa,oiya paa… mutia punya hadiah baju batik yang cantik untuk papa,jadi segera sembuh agar kita bisa ramadhan bersama,tarwih berjamaah dan papa bisa pake baju yang mutia beliin yaa…” kali ini papa tidak mengangkat keningnya dia hanya menatapku dalam, tanpa batas.ntah dia melihatku atau memandang kearah yang lebih jauh. “mmm… papa uda qomat, mutia kemesjid dulu yaa…. Solat dan berdoa untuk kesembuhan papa yaaa???” ia mengangkat kening. Aku tersenyum lalu beranjak dari tempat dudukku “paa… tunggu mutia yaa…sampe pulang solat?kita cerita lagi?”. diam….

Hanya 5 menit percakapanku dengan papa setelah itu dia tak sadar lagi meskipun begitu aku bersyukur karena bisa melihatnya siuman dan berbicara padanya,tanpa mendengar suaranya,tanpa melihat senyumnya tapi dengan pandangan mata dan isyarat keningnya aku sangat bersyukur.selebihnya aku sangat berharap besok papa bisa kembali sadar dalam waktu yang lebih lama.
….
Sejak pagi tak ada makanan yang bisa melewati tenggorokanku karena nadi dan tensi papa yang begitu mengkhawatirkan. 40/39 lebih buruk dari balita bahkan bayi yang baru lahir,para suster berbisik dan berkata tidak ada harapan lagi,dokterpun hanya mengharap keajaiban,mama berputus asa dan meminta mencabut semua alatnya agar papa bisa segera pergi,aku marah melihat mamaku yang menurutku begitu jahat,kumohon pada dokter untuk kembali memeriksa papa,aku  juga menyuruh suster untuk mengganti impus,monitor,dan upname papa dengan yang baru,menurutku semua yang papa pake saat itu rusak sehinggah tidak mampu membaca nadi dan tensinya,akhirnya mereka mengabulkan permintaanku,seorang suster yang bertugas menyuntikkan makanan untuk papa juga tetap memberikan dia makan,dan dokter kembali mengeluarkan resep dengan harapan itu bisa menaikkan tensinya. Aku terus duduk disebelah kanan dekat kepala papa,kubisikkan sejumlah ayat yang kuhafal sambil menangis.

100/-,30/49…. -/-,-/30… begitu pergantian antara tensi dan nadi papa yang terlihat dimonitor saat itu hinggah para mantri datang dan memeriksa keadaan papa,aku lebih memilih lari kemushollah. Atas saran seorang teman Disana aku solat sunnah berkali-kali,agar aku bisa lebih tenang katanya. Ntah solat apa saja namanya mungkin solat mutlak tapi aku berniat solatku bisa menyembuhkan papa dan menghilangkan rasa sakitnya,dua jam setelah zduhur aku terus menangis dan bersujud tanpa peduli keluarga pasien lain yang juga solat disampingku,aku terus menangis dan memohon Allah yang maha pengasih mengakhiri derita papa

”yaa Allah aku mencintai papaku sangat menyayanginya. Dialah orang pertama yang kusayangi setelah engkau dan rasulmu, yaa Allah kumohon sembuhkan papaku… dan akhiri rasa sakitnya,aku ikhlas bila aku yang merasakan sakitnya tapi tak akan tahan jika harus malihat papaku seperti itu,yaa Allah bukankah engkau maha pemurah? Bukankah engkau menyuruh kami yakin karena engkau akan mengabulkan doa-doaku? Aku yakin kau akan mengakhiri sakit papa dan menggantinya dengan kebaikan yang tiada tara,apapun kebaikan itu kumohon ajari aku tuk ikhlas yaa Allah”

Azan adzhar kembali terdengar tapi aku masi enggan meninggalkan papa,hinggah 30 menit berlalu nafasnya mulai sesak dan terputus-putus,mama terus menangis sambil menggenggam tangannya dan menyuruhku tuk menuntun papa bembaca syahadat,dzikir dan ntah apa lagi yang bisa kubisikkan. Yaa ayyatuhan nafsul mutmainnah irji’ii ilaa rhobbika radhiyatan mmardiyah fadkhulii fii ‘ibadii wadkhulii jannatii.pukul16:00,rabu 20 juni 2012 tangan-tangan israil mendekap dan mengantarkan papa kekehidupan barunya yang lebih kekal dan lebih tenang insyAllah

Dokterpun telah memastikannya dan menghilangkan semua selang yang menambah beban sakit papa selama ia dirawat,aku berusaha tampil kuat dan menenangkan mama,ku peluk tubuhnhya yang lemah dan berkata semua merupakan ketetapannya yang tidak bisa ditawar atau dihindari dan kita semuapun akan menuju kesana,sambil terus kupandangi wajah papa yang kurus namun tampak cerah,air mataku terus mengalir tanpa bisa ku bendung hinggah menimbulkan uap dikacamataku,samar kulihat wajahnya,kucoba mendekat dan lebih dekat namun semua kaki dan tanganku terasa lemas tanpa tenaga,samar dan akhirnya semua menjadi gelap. Ku mohon paaa muncullah dalam tidurku dan tersenyumlah untuk terakhir kalinya.

Semilir angin menyapaku dengan lembut ketika aku berlutut memandangi komplotan makhluk Allah yang mengais rezeki ditengah sawah yang hijau.dulu ketika aku berkunjung disini menatap kedepan diantara sawah,sungai dan gunung aku akan menemukan orang yang sangat kucintai setelah Allah dan rasulnya,berdiri tegak memandangi ternak-ternaknya dan mengawasi tanamannya yang tumbuh dengan subur. Layaknya seorang colonel ia tampak gagah dan berwibawah ,papa….!!!teriakku sambil melambai dan saat itu senyumnya akan merekah dan wajahnya bersinar.kini tempat itu tidak lagi kupandangi namun kudatangi dan kutelusuri hinggah tak mampu lagi tuk mendaki namun aku tak juga menemukan sosok yang kucari disana,mungkin papaku tidak disini lagi…. Bisikku dalam hati.

Aku ingin menghilang…walau hanya sejenak,menghilang ke tempat dimana tidak akan ada yang menemukan dan melihatku,agar bisa ku menangis agar bisa kuberteriak dan memanggil namanya.
Diluar masi gerimis tapi banjir telah menggenangi hatiku, ntah sampai kapan mungkin sampai waktu mengobati kerinduanku. Sampai saat itu maka izinkan ku menangis,menangis tuk mengobati kerinduanku padanya….

Sekuntum Surat Rindu untuk Papaku Tercinta

Sekuntum Surat Rindu untuk Papaku Tercinta

oleh Asyifa Rhoudatul Jannah 
27 Juni 2012 pukul 21:00

Dear papaku tercinta

assalamu'alaikum papaku sayang...
sudah seminggu engkau berada di tempat barumu
bagaimanakah kini kabarmu?
seringku bertanya bagaimana keadaan tempat peristirahanmu itu paa
apakah sempit atau luas???
gelap ataukah terang???
pengap ataukah nyaman???
sepi ataukah damai???

aku selalu berdoa dan berharap yang terbaik untukmu
dan ketika senyummu menghiasi mimpiku,,,
akupun yakin engkau berada di tempat yang sangat indah

paa tiap waktu kami mengirimkanmu kado terindah,,,
engkau pasti tersenyum manis ketika menerimanya:)


paa... tiap fajar menyingsing kau selalu membangunkanku dengan suara lembutmu
membelaiku dengan halus dan mengajakku bertahajjud
bersujud pada sang kholik...
aku merindukanmu paaa....:(

tiap kali aku sakit kau selalu berada disampingku
menemaniku,menyuapiku,dan mendendangkan ayat-ayat suci pengobat jiwa
doamu tak pernah putus hinggahku kembali tegak dan berteriak nyaring
namun ketika engkau sakit...
aku jauh paaa...
tak bisa menjaga,menemani bahkan membantumu :(

ku berdoa semoga disana engkau selalu bahagia
mendapat kenikmatan yang tiada tara,kenyamanan
dan bidadari cantik yang bisa menemani harimu...

paa kau sangat hebat...
bukan hanya kami anak-anakmu yang kehilanganmu
tapi setiap orang yang mengenalmu menangis dan mendoakanmu
ketika sulit kau tidak pernah mengeluh
setika sakit kau selalu bersabar
dan selalu tersenyum...
paa aku mencintaimu,,, sangat menyayangimu
aku berharap bisa bertemu lagi denganmu
menatap matamu yang teduh,
melihat senyummu yang manis,,
mendengarkan suaramu yang halus,,,
dan memeluk tubuhmu yang hangat...

i love u paaa....
itu kata yang tak sempat ku ucapkan
aku merindukanmu.sangat merindukanmu
itupun tak sempat kau dengarkan
ku harap malaikat penjaga pintu surga menyampaikannya padamu....


dari
anakmu yang selalu merindukanmu

Wednesday, 13 June 2012

Segelap Malam,Seindah Cahaya Bintang

Oleh Asyifa Raudhatul Jannah

Tangisnya pun pecah dalam sujud akhirnya pada yang maha kuasa,,,
dia tak mampu lagi menahan sakit yang ditorehkan kedua orang tuanya karena perjodohan yang tidak ia inginkan…
seberkas cahaya malam menyusup kedalam kamarnya yang kini terasa sesak,dari balik jendela kecilnya nampak rembulan yang tersenyum manis di tengah gelapnya malam, dan bintang yang terus bersinar indah dalam kesendirian…..

“harapan itu masi ada… yaaa masi ada”. Nabila membatin
“jangankan ijab qobul undanganpun belum diedar… yaaa Allah nabila mohon tunjukkan kekuasaanmu dan datangkan keajaiban itu,,, nabila lemah. Sangat lemah.
Nabila gak akan mampu menentang keinginan abah, tapi nabila berharap besar padaMU
Hanya padaMU yaa robb… nabila pasrahkan segalanya dan nabila memohon keajaiban itu” rintihnya dalam hati…
Nabila terus berdoa dan menangis, mengadu pada robb-nya yang maha pengasih atas segala kesulitan dan tekananya selama ini.
Nabila adalah anak ke dua dari tiga bersaudara kakaknya seorang wanita yang kini kuliah di salah stu universitas negri di kotanya dan seorang adiknya yang masi kecil.
Sejak abahnya menganut golongan yang membawanya pada kemusryikan,nabila menjadi boneka hidup yang semua haknya dicabut tanpa tolerans,kehidupannya kemudian dimonopoli dalam kekuasaan abanya,tdk beloh begini dan begitu serta harus seperti ini dan seperti itu.melelahkan.sangat melelahkan.
Hinggah suatu saat umur nabila tepat 16 thn abahnya langsung menjodohkannya dengan seorang pemuda keturunan arab yang punya pemahaman yang sama dengannya (musryik)

“tapi nabila masi ingin sekolah baah, nabila juga ingin kuliah seperti kakak, nabila ingin mengejar impian nabila”ucapnya sedikit takut

“kamu itu cewek! Gak ada gunanya sekolah nanti kerjaannya Cuma di dapur dan mengurusi suami.sekolahin kamu itu Cuma buang-buang duit, pada akhirnya hanya merepotkan dan menyusahkan abah saja. Mending kamu segera menikah agar beban abah hilang!”

Sakit,sungguh sakit hati nabila. ucapan abahnya bagaikan sembilu yang menyayat-nyayat perasaannya yang begitu lembut… abah… apa hanya nabila yang abah anggap sebagai beban??? Bagaimana dengan kakak dan adik? Setiap kali memberikan mereka pakaian atau duit abah selalu bilang itu kewajiban, tapi kenapa padaku menjadi beban? Bukankah nabila anak abah dan ummi juga? Tapi kenapa baah? Abah bilang nabila perempuan dan gak perlu sekolah,tapi kakak kan juga seorang perempuan, abah mnyekolahkan dan membiayai kuliah kakak, menyediakan dia kontrakan agar dekat dari kampus,dan memenuhi segala kebutuhannya. Abah tidak pernah bilang dia merepotkan abah tapi mengapa pada nabila yang belum sempat lulus SMA nh abah berkata seperti itu?! Nabila juga ingin sekolah baah… nabila belum ingin menikah nabila belum mampu menjalankan tugas seorang istri nabila masi 16 thn aabaaahhh… kelunya dalam hati. Nabila tak akan sanggup mngungkapkan semua yang ingin dia katakana dan tanyakan, dia hanya bisa diam menerima segala serangan abahnya dan menelannya walau bgt pahit.ingin rasanya ia menangis tapi ia menahannya dengan sekuat tenaga dan berusaha tegar tanpa ekspresi apapun, hinggah abahnya meninggalkan kamarnya yg semakin sempit oleh deklarasi yang tidak pantas keluar dari mulut seorang ayah. Segera kejadian buruk tadi di ceritakanya pada syila,seorang pelajar yang umurnya terpaut lebih tua 3 tahun darinya.
“kak hati adek bener-bener sakit saat denger adek ingin dinikahkan dan,
Gak perlu sekolah. Kata abah adeh lebih baik nikah karena adek perempuan
Yang tugasnya nantinta hanya di dapur.
Padahalkan adek masi 16 th kak :(“
“jadi nabila baru 16 th? Da mau dinikahkan?!
Nabila masi sangat muda tuk menikah,gak masalah low nabila juga mau
Tapi low g?! jangan sampe nyesel,menikah bkn sebuah permainan,tapi
Sebuah komitmen yang harus qt pegang seumur hidup.
Kalau memang nabila gak mau, tolak aja de’,nabila gak usa takut.

Hmm… kakak tau nabila anak yang baik,
Selalu patuh dan taat ma orang tua, kakak bukannya ingin menjadikan nabila
Sbg anak pembangkang kakak hanya berharap nabila bisa hidup tanpa
Tekanan dan perintah kedua orang tua nabila, itu hidup nabila
Gak boleh ada yang mncampuri selain nabila dan ketetapanNya,
Menurut kakak orang tua hanya brtugas tuk menjaga anaknya agar tdk salah
Membimbing dan meluruskan ketika ia salah
Tanpa harus memonopolinya dan mengatur sesuka hatinya.
Nabila, low nabila gak ingin menikah nabila harus berani tuk menolak dengan tegas
Nabila punya hak tuk gak setuju….”
“kak nabila juga ingin nolak,tapi gak bisa….
Abah gak akan mendengarkan apa kata nabila.
Nabila bahkan terfikir tuk kabur tapi nabila takut kak
Mungkin abah dan ummi akan sangat membenci nabila
Nabila gak mau,meskipun menikah hal yang paling buruk
Tapi nabila juga gak ingin nyusahin abah dan ummi terus
Lagi pula ini yang mereka ingin kan
Jadi nabila harus jalanin,nabila gak apa-apa
Asalkan abah dan ummi bahagia nabila berusaha ikhlas”
“huuuffftt… nabila, meski kakak gak setuju tapi kakak menghargai keinginan nabila
Kakak kagum ma nabila yang begitu sabar dan tabah
Kakak berdoa moga nabila selalu diberi kemudahan dan kebaikan
Jika nabila berharap suatu keajaiban dan punya impian
Kakak akan berdoa semoga impian itu tercapai
Dan keajaiban itu datang dengan segera,nabila harus yakin.”

Dalam hati syila berharap pernikahan itu tdk pernah terjadi,dia kembali teringat pesan nabila bahwa calon suaminya adalah seseorang yang musyik spt abahnya nabilapun mengutip sebuah ayat dari surah an-nisa bahwa perempuan yang keji hanya untuk laki-laki keji dan perempuan beriman hanya untk laki-laki beriman,meski nabila tdk pernah bilang jika ia tdk setuju tapi syila bisa merasakan dan mngetahui dari semua tulisannya,syila dapat menangakap kekecewaan dan ketakutan yang berusaha ia tutup dgn senyuman.

‘huuufftttt” syila mendesah panjang, ia berfikir keras bagaimana ia harus menggagalkan rencana gila abah nabila,dia harus bertemu dan bicara langsung,dia yakin bisa melakukannya tapi bagaimana? Nabila berada di kota padang dan dia di kota bogor…

“Huuuffttt….mengapa ditahun yang bgt modern masi ada orang tua yang berfikiran kolot. Pendidikan penting baik bagi laki-laki atapun perempuan rosul jga telah mengatakan itu, bukankah wanita merupakan tiang agama? Dimana ketika para wanita bodoh dan tidak berilmu laki-lakipun tdk ada gunanya,sbg tokoh agama harusnya abah nabila faham akan hal ini. ketika menikah wanita akan menjadi navigator dari suaminya, wanita yang cerdas cenderung berfikir panjang dan mengambil tindakan dengan hati-hati demi kebaikan rumah tangganya dan masyarakat lalu apa jadinya ketika seorang yg berstatus sbg seorang istri bodoh dan tak mampu membantu suaminya baik dalam bertindak ataupun berfikir?! Ketika menikah seorang wanita akan menjadi ibu bagi anak-anaknya, madrasah serta guru pertama bagi putra putrinya,ketika ia tdk memiliki pengetahuan yang cukup dengan apa kemudian ia dapat mengajar anak-anaknya?! dan bagaimana ia akan menjawab pertanyaan yg akan muncul ketika anak-anaknya ingin tau mngenai berbagai hal. Pada kenyataannya wanita sangat membutuhkan pendidikan dan harus mendapatkan pendidikan yang baik”. Keluh syila didepan cermin
***

Dua minggu menjelang pernikahannya nurul yang mulai dekat dengan nabila saat tabliq akbar bulan lalu datang silaturahim kerumah nabila. Nabila menyambutnya dengan senyum hangat dan penuh perhasabatan,meskipun bgt nurul tetap bisa menangkap gurat sedih dan suram yang terpancar dari wajahnya yang manis.
“da msalah apa de’?”selidik nurul yang memang lebih tua 5 tahun darinya
“nabila kenapa nangis matanya sampe bengkak gitu, coba cerita sama kakak,mgkin kakak bias Bantu?”
Awalnya nabila mnolak dan brbhong, brkta dia hanya sedih setelah menonton film tapi nurul tidak percaya dan terus bertanya akhirnya nabila bercerita semua termasuk mengenai perjodohan diusianya yang begitu muda.
“gak boleh! Adek gak boleh nikah dulu! Adek masi kecil,masi harus sekolah. uda ntar malem kakak datang dan ngomong ma abah nabila.” Kata nurul dengan nada tegas, ada rasa takut yang menyusup dihati nabila mendengar ucapan nurul yang begitu nekad tapi diapun merasa senang dan lega berharap inilah pertolongan dan keajaiban yang selama ini ia minta pd Allah swt.

Malamnya nurul benar-benar datang, terjadi debat segit antara ia dan orang tua nabila, abahnya yang memang bgt keras marah dan membentak-bentak tapi nurul tetap tenang dan bersahaja,penjelasannya yang logis dan kata-katanya yang penuh wibawa mampu menjinakkan abah nabila.
Akhirnya pernikahan itupun batal dengan konsekuensi nabila harus keluar rumah dan tinggal bersama nurul.Nurul juga berjanji akan mnyekolahkan dan membiayai kuliah nabila.
***

Nurul asdalah seorang mahasiswi yang jg bekerja sebagai guru privat dan sd.ia seorang yatim dan bertanggung jawab dalam menafkahi ibunya yang kini telah tua dan sakit-sakitan. Melihat keadaan nurul yang akan bertambah sulit dengan kehadirannya,selama beberapa hari tinggal bersama nurul nabilapun memutuskan pergi diam-diam tanpa berpamitan dan meninggalkan malaikat yang telah mengeluarkannya dari neraka itu. Ia bukan tak ingin berpamitan tapi ia tak ingin seseorang yang telah dianggap sbg kakak itu sedih dan menghalangi keinginanya tuk pergi,dalam hatipun nabila sangat ingin bersama nurul,tapi dia tidak ingin menjadi beban bagi orang yang ia sayangi,ia tidak ingin merepotkan dan menyusahkan nurul seperti yang abahnya rasakan.
Cambukan kata itu masi tergores dan membentuk luka yang dalam hinggah ia tak ingin dekat dengan orang-orang yang ia sayangi sekalipun ia menginginkannya.

Seperti biasa usai solat subuh nurul berangkat ke sekolah,nabila yang sejak tadi besiap-siap kabur menatap dalam kakaknya dan melepasnya hinggah ujung jalan menelan bayangnya. pelan-pelan ia berjalan keluar dengan sebuah tas baju dan rangsel,di depan pintu ia mendengar suara ibu nurul yang mengaji dengan khidmat, setetes demi setetes air matanya jatuh dalam pelukan pagi yang begitu hangat. Selamat tinggal ibu… selamat tinggal kak nurul…ucapnya dalam hati.
Maaf kan nabila tapi terima kasih karena telah menerima nabila,,, nabila minta maaf, nabila terpaksa pergi…. Selamat tinggal keluarga kecilku.

Sepanjang jln ia brusaha tk menguatkan hatinya,brusaha tuk tdk menangis dan tersenyum walau sulit.selama empat jam ia berjalan menuju stasiun dan pergi menuju kota madya.perjalanan yang menyedihkan dan tidak pernah terbayang sebelumnya.

Allah maha adil.ya memang seperti itu, Dia tdk menganugrahkan orang tua dan saudara yang dapat mngasihi nabila dengan sempurna tapi Dia menganugrahkan saudara-saudara seiman yang sempurna dalam menyayanginya,selain nurul dan ibunya nabila pun dikelilingi teman-teman sekolah yang baik dan ramah,selain itu ia punya seorang kakak yang akan selalu mendukung dan mengharap yang terbaik untuknya, seorang kakak yang ia kenal dalam dunia maya namun begitu nyata dalam menyayanginya:)
Syila seorang teman dari facebook yang kini bagaikan kakak kandungnya sendiri, pada syilalah ia selalu bercerita tentang smw ksedihan dan kesulitannya selama ini. Syila pula yang selalu memotifasi dan memberikan ia dokungan moril untuk terus kuat dan berjuang meraih semua keinginannya. Bagi syila, nabila adalah orang yang memotifasi dia dan membakar semangatnya tuk terus maju dan sukses sedangkan bagi nabila, syila merukan kakak yang menyayanginya dan terus memberikan ia semangat agar lebih kuat dan mampu bertahan sejauh ini.
***

Kini nabila bekerja di salah satu usaha keluarga yang cukup sukses di kota itu, ia tinggal di ruangan yang disediakan pemilik usaha yang berada tepat dibelakang toko mereka. Nabila yang berumur 16 thn perlahan manjadi dewasa karena benturan hidup yang harus dihadapinya, ia tinggal sendiri dalam ruangan kecil dan sempit untuk dijadikan kamar,dapur sekalian wc itu…
Syila hampir tak bisa berkata apa-apa lagi ketika mendengar keadaan tempat tinggal adiknya yg begitu buruk,memang itu lebih baik dari sebagian besar lainnya tapi nabila masi mempunyai orang tua,ia punya keluarga yang harusnya bisa menjaga dan merawatnya,ia mempunyai kakak yang harusnya bisa menariknya kembali ditengah-tengah keluarganya,dan ia punya ibu.hidup ternyata begitu rumit tuk diselesaikan dengan satu rumus. hati syila lebih sakit lagi ketika mendengar nabila bercerita ia mendapatkan info bahwa orang tuanya sibuk membenahi rumah untuk menghilangkan hawa buruk dari anak pembawa sial.

Nabila pun bercerita bahwa ia disebut sbg anak pembawa sial oleh neneknya yang juga menjadi penyebab abahnya begitu membencinya karena mnganggap semua kesulitan dan masalah yang ada karena kehadiran nabila. astagfirullah…
Bagaimana mungkin seorang ayah bisa berfikiran seperti itu, anak adalah anugrah meski suatu saat bisa menjadi ujian tapi bikan bearti pembawa sial.
Hatinya bgt sakit, di ruangan dan tempat yang berbeda nabila dan syila menangis dan berdoa bersama agar kelak abah nabila bisa sadar dan mendapat hidayahNya.

Nun jauh disana klg nabila dapat hidup dengan nyaman,tinggal dirumah yang luas,makan-makanan yang enak dan tidur dikasur yg empuk. Sedangkan nabila… dia harus tinggal sendiri dalam ketakutan dan kesedihan, pnya keluarga tapi tak bisa bersama, makan apa adanya,dan tidur dalam kerinduan dalam kehangatan keluarga yang sempat ia rasakan sewaktu kecil… ia berjalan mendekati cela dinding yang berada tepat diatas kasurnya yang lusuh, sekelompok bintang bersinar tersenyum manis dalam gelapnya malam,tanpa terasa air matanya jatuh membasahi wajahnya yang begitu lelah
“nabila kangen baah… ummiii…”bisiknya lirih….